Bukan Korupsi, Kok Gucci hingga Hermes Anniesa Dirampas Negara?





Jakarta
Pengadilan Negeri (PN) Depok dan Pengadilan Tinggi (PT) Bandung merampas untuk negara seluruh aset First Travel. Seperti segambreng kacamata hingga jam tangan Richard Mille. Padahal, uang itu dari uang jemaah. Kok bisa dirampas negara?

“Harapan klien kami, dengan adanya banding ini sebagaimana aset itu dikembalikan atau untuk memberangkatkan jemaah, bukan disita negara, yang jelas-jelas uang itu milik jemaah,” kata kuasa hukum Andika-Anniesa, Ronny Setiawan.

Berikut sebagian daftar aset First Travel yang dibeli dari hasil mencuci uang jemaah, tapi malah dirampas negara, sebagaimana dikutip dari website Mahkamah Agung (MA), Jumat (31/8/2018):

1. 2 (dua) buah kaca mata merek SWAROVSKI;
2. 17 (tujuh belas) buah kaca mata merek DIOR;
3. 6 (enam) buah kaca mata merek CHANEL;
4. 1 (satu) buah kaca mata merek AERIAL;
5. 4 (empat) buah kaca mata merek MONT BLANC
6. 7 (tujuh) buah kaca mata merek DOICE GABBANA;
7. 2 (dua) buah kaca mata merek PRADA;
8. 19 (sembilan belas) buah kava mata merek LOUIS VUITTON;
9. 1 (satu) buah kaca mata merek LINDA FARROW;
10. 7 (tujuh) buah kaca mata merek FENDI;

11. 5 (lima) buah kaca mata merek REY BAN;
12. 3 (tiga) buah kaca mata merek CARTIER;
13. 1 (satu) buah kaca mata merek DEVIATION;
14. 2 (dua) buah kaca mata merek TAGHEUER;
15. 4 (empat) buah kaca mata merek ERMENEGILDO ZEGNA;
16. 3 (tiga) buah kaca mata merek ALDO;
17. 1 (satu) buah kaca mata BULGARI;
18. 1 (satu) buah kaca mata merek MOSCHINO;
19. 2 (dua) buah kaca mata merek GUCCI;
20. 1 (satu) buah kaca mata merek CALVIN KLEIN JEANS;

21. 1 (satu) buah kaca mata merek GUES;
22. 1 (satu) buah kaca mata merek CHARLES KEITH;
23. 1 (satu) buah kaca mata merek SPEEDO;
24. 1 (satu) buah kaca mata merek PORSCHE DESIGN;
25. 1 (satu) buah kaca mata merek BURBERRY;
26. 1 (satu) buah kaca mata merek PROMOD CAT;
27. 1 (satu) buah kaca mata merek OKLEY;
28. 1 (satu) buah kaca mata merek SUNDAY SOMEWHERE;
29. 1 (satu) buah kaca mata merek LUNE;
30. 1 (satu) buah kaca mata merek VICTORIA BECKHAM;
Bukan Korupsi, Kok Gucci hingga Hermes Anniesa Dirampas Negara?Foto: Dok. Instagram
32. 1 (satu) buah kaca mata merek ZEGMA SPORT;
33. 1 (satu) buah kaca mata merek SMITH;
34. 15 (sembilan belas) buah kaca mata tanpa merek;
35. Sepuluh buah ikat pinggang merek LOUIS VUITTON.
36. 1 (satu) buah ikat pinggang merek TAMINO LAMBORGHINI No. Seri 1050 warna Hitam; 37. Enam buah ikat pinggang merek HERMES
38. PIERRE CARDIN warna Cokelat;
39. 1 (satu) buah ikat pinggang merek MOSCINO warna Hitam;
40. 1 (satu) buah ikat pinggang merek NIGHT MARES warna Hitam;

41. 1 (satu) buah ikat pinggang merek PANNEI warna Coklat;
42. 2 (dua) buah ikat pinggang merek MONT BLANC warna Cokelat;
43. 1 (satu) buah ikat pinggang merek MS warna Hitam;
44. 1 (satu) buah ikat pinggang merek TOP MAN.
45. 1 (satu) buah ikat pinggang merek GUCCI No. Seri 354380;
46. 3 (tiga) buah ikat pinggang merek NIHIL warna Hitam dan Abu-abu;
47. 1 (satu) buah ikat pinggang merek ZARA warna Hitam;
48. 2 (dua) buah ikat pinggang merek First Travel warna Putih;
49. 1 (satu) buah jam tangan merek Tag Heur Grand Carrera warna hitam;
50. Satu buah jam tangan merek Tokyoflash Japan warna hitam;

51. 1 (satu) buah jam tangan merek Mini cooper warna merah hitam;
52. Satu buah jam tangan merek Apple warna hitam.
53. Satu buah jam tangan merek Richard Mille warna gold.
54. 1 (satu) buah jam tangan merek Swiss Army warna hitam.
55. 1 (satu) buah jam tangan merek GC warna silver;
56. 1 (satu) buah jam tangan merek Gc warna gold.
57. 1 (satu) buah jam tangan merek Guess warna gold;
58. 1 (satu) buah jam tangan merek Tag Heur Monaco warna hitam;
59. 1 (satu) buah jam tangan merek Aigner warna gold tali cokelat;
60. 1 (satu) buah jam tangan merek Guess warna gold tali cokelat;

61. 1 (satu) buah jam tangan merek Swiss Army Victorinox warna cokelat;
62. 1 (satu) buah jam tangan merek Tag Heur Carrera Calibre 1887 warna cokelatgold;
63. 1 (satu) buah jam tangan merek Emporio Armani warna gold tali cokelat;
64. 1 (satu) buah jam tangan merek Intercrew warna hitam;
65. 1 (satu) buah jam tangan merek Tokyoflash japan warna silver;
66. 1 (satu) buah jam tangan merek Apple Watch warna hitam;
67. 1 (satu) buah jam tangan tanpa merek warna hitam;
68. (satu) buah batu permata Blue Safir;
69. 1 (satu) buah Liontin Batu permata putih;
70. 3 (tiga) buah HP iPhone warna putih;

71. 1 (satu) buah HP iPhone warna hitam;
72. 1 (satu) buah HP Blackberry warna putih;
73. 2 (dua) buah HP Nokia warna hitam;
74. 1 (satu) buah HP Nokia warna silver;
75. 1 (satu) buah HP Nokia Flip warna ungu;

(asp/rvk)



<!–

polong.create({
target: ‘thepolong’,
id: 57
})

–>

Sumber: https://news.detik.com/read/2018/08/31/144125/4191476/10/bukan-korupsi-kok-gucci-hingga-hermes-anniesa-dirampas-negara

Read More

Facebook Fires Back at Co-Founder’s Call to Break Up the Social Giant: ‘Success Should Not Be Penalized’

Facebook’s top communications exec penned his own op-ed in the New York Times, responding to an opinion piece published two days ago in the newspaper by co-founder Chris Hughes — who urged the U.S. government to find a way to break up Facebook and put other checks on its “unprecedented and un-American power.”

In the Times piece Saturday, Nick Clegg, Facebook’s VP of global affairs and communications, argued that Hughes gets some fundamental things wrong; for one thing, Clegg disputed that Facebook has any kind of monopoly control. He also said breaking up the company “won’t fix what’s wrong with social media.”

“Facebook shouldn’t be broken up — but it does need to be held to account,” Clegg wrote. “Anyone worried about the challenges we face in an online world should look at getting the rules of the internet right, not dismantling successful American companies.”

Hughes, who has not worked at Facebook for more than decade, on Thursday called for the FTC and Department of Justice to force Facebook to spin off Instagram and WhatsApp and also to prohibit Facebook from making acquisitions for several years. “Mark Zuckerberg cannot fix Facebook, but our government can,” Hughes wrote.

In his rebuttal, Clegg suggested that Facebook has become a major target for critics because it has become massive, with more than 2 billion users around the world. But, he opined, “Big in itself isn’t bad. Success should not be penalized.”

Indeed, Clegg spun the company’s immense profits as allowing it to address the ills facing the social-media platform: “In Facebook’s case, our size has not only brought innovation, it has also allowed us to make a huge investment in protecting the safety and security of our services.”

To Hughes, the concern is that Facebook has unchecked power to control the flow of information to literally billions of people. “The most problematic aspect of Facebook’s power is Mark’s unilateral control over speech. There is no precedent for his ability to monitor, organize and even censor the conversations of two billion people.”

The right remedy for those concerns is more government oversight, Clegg wrote: “We are in the unusual position of asking for more regulation, not less.”

Zuckerberg in March spelled out Facebook’s position, asking for new laws that govern how internet companies treat harmful content, election integrity, privacy and data portability. “In all these areas, we believe that governments should make the rules consistent with their own principles, not those of private companies like Facebook,” Clegg wrote in the op-ed.

Clegg is the former U.K. deputy prime minister who joined Facebook last year after the resignation of longtime company exec Elliot Schrage in the wake of the Cambridge Analytica scandal.

In his essay, Clegg asserted that Hughes’ allegation that Facebook wields monopoly power is wrong. Competitors he reeled off include Google’s YouTube, Snapchat, Twitter, Pinterest and TikTok, Apple’s iMessage, WeChat, Line and Microsoft’s Skype. He also said “most estimates” put Facebook’s share of the U.S. digital ad market at about 20%; research firm eMarketer most recently projected Facebook will own 22.1% of U.S. digital ad revenue in 2019 (versus 37.2% for Google).

In addition, Hughes displays a “misunderstanding” of antitrust law, Clegg wrote. The purpose of those laws is to ensure consumers have access to low-cost, high-quality products and services, not to “punish a company because people disagree with its management.”

Last month, Facebook disclosed that it expects to be hit with an FTC fine of up to $5 billion to settle allegations of the company’s violations of privacy regulations. Hughes argued that an FTC fine wouldn’t do anything to change Facebook’s behavior or diminish its power.

Hughes is far from the first person to raise serious concerns about Facebook or to urge that it be broken up. Sen. Elizabeth Warren, who is angling for the 2020 Democratic presidential nomination, has proposed a plan to break up Facebook and other tech giants.

Sumber: https://news.detik.com/read/2018/08/31/144125/4191476/10/bukan-korupsi-kok-gucci-hingga-hermes-anniesa-dirampas-negara

Read More

Lebih Kritis, Kini Netizen Mulai Malas Baca Berita lewat Facebook

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTAFacebook dan Twitter sempat diramalkan bakal membunuh portal media.

Pasalnya, informasi memang lebih cepat menyebar via jejaring sosial karena kecenderungan netizen untuk saling berbagi.

Namun, laporan dari firma analis trafik “Chartbeat” melawan tesis tersebut. Netizen kini lebih kritis dalam mengakses berita, tak mau serta-merta percaya pada informasi yang seliweran di Facebook dan Twitter.

Sejak Januari 2017, traffic Facebook dan Twitter untuk akses berita menurun hampir 40 persen. Traffic tersebut kembali mengalir ke portal media resmi, baik melalui situs, aplikasi, maupun agregator.

“Netizen sekarang cenderung mencari konten berita lewat situs atau aplikasinya langsung ketimbang melalui Facebook,” kata tim analis Chartbeat, sebagaimana dihimpun, Kamis (18/10/2018), dari Axios.

Asumsi ini didukung data yang menunjukkan peningkatan pencarian berita di Google Search versi mobile.

Peningkatannya mencapai dua kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya. Traffic langsung ke situs dan aplikasi resmi portal media pun naik 30 persen sepanjang 2017.

Agregator berita, seperti Flipboard, Google News, dan Apple News, juga menunjukkan pertumbuhan akses. Agregator berita ini mempermudah netizen untuk mengurasi berita yang relevan bagi mereka.

Baca: Hai Mahasiswa, Ini Cara Dapatkan Voucher Rp 1 Juta Bila Beli Advan G3

Misalnya saja, pencinta musik yang hanya ingin ditunjukkan berbagai berita musik dari beragam portal media. 

Fakta ini menunjukkan, netizen mulai melek informasi dan kritis terhadap validitasnya.

Informasi yang dipertukarkan di Facebook dan Twitter memang bersifat lebih real-time, tetapi tidak melalui proses verifikasi.

Sifatnya berupa opini dari pengalaman netizen yang melihat langsung sebuah insiden. Berbeda dengan informasi dari portal media yang telah diolah oleh jurnalis sehingga mementingkan aktualitas dan kebenaran fakta.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Akses Berita di Facebook Turun, “Page View” Portal Media Menanjak” 

Sumber: https://news.detik.com/read/2018/08/31/144125/4191476/10/bukan-korupsi-kok-gucci-hingga-hermes-anniesa-dirampas-negara

Read More

Facebook perkenalkan Portal, perangkat untuk panggilan video

Jakarta (ANTARA News) – Facebook mengumumkan kehadiran Portal dan Portal+, dua perangkat komunikasi untuk panggilan video di rumah.

“Berkat teknologi AI (kecerdasan buatan), Portal membuat panggilan video lebih mudah dan lebih seperti bertemu langsung, sementara layar lebar memungkinkan Anda menikmati setiap momen bersama,” tulis Facebook, dikutip dari laman resminya, Selasa.

Dengan layar 10 inci 1280 x 800 piksel, Portal meningkatkan panggilan video dan memungkinkan pengguna menikmati waktu berkualitas bersama keluarga dan teman-teman, bebas dari tangan dan gangguan.

Sementara itu, Portal+ berukuran lebih besar dengan tampilan layar 15 inci 1920 x 1080 piksel. Kedua model tersebut dirancang untuk membantu pengguna merasakan obrolan video seperti berada dalam ruangan yang sama.

Baca juga: Facebook siapkan perangkat video pesaing Amazon

Ditenagai AI, Portal dibekali teknologi Smart Camera dan Smart Sound. Smart Camera akan secara otomatis melakukan zoom agar objek tetap terlihat, sementara Smart Sound meminimalkan kebisingan dan meningkatkan kualitas suara siapapun yang berbicara.

Pengguna tetap dapat menghubungi teman Facebook dan terhubung dengan Messenger meskipun teman mereka tidak memiliki Portal. Panggilan dapat dilakukan ke dan dari smartphone dan tablet yang mendukung Messenger.

Portal mendukung panggilan grup hingga tujuh orang pada saat yang bersamaan.

Selain itu, Portal telah dibekali teknologi kontrol suara, sehingga pengguna dapat mengoperasikan Portal tanpa menggunakan tangan, cukup dengan mengucapkan “Hei Portal” dan mencatat siapa yang ingin Anda telepon.

Tidak hanya itu, Portal juga dibekali asisten digital milk Amazon, Alexa, sehingga pengguna dapat memiliki meminta Portal untuk melakukan beberapa hal, seperti memeriksa cuaca, mengontrol perangkat smart home dan memesan bahan masakan.
 

Tampilan perangkat Portal (kiri) dan Portal+ (kanan) milik Facebook (newsroom.fb.com)

Untuk keamanan, pengguna benar-benar dapat menonaktifkan kamera dan mikrofon dengan sekali ketuk. Portal dan Portal+ juga dilengkapi dengan penutup kamera, sehingga pengguna dapat dengan mudah menutup lensa sambil menerima panggilan masuk dan melihat notifikasi, serta menggunakan perintah suara.

Untk mengelola akses Portal, pengguna dapat mengatur kode sandi empat hingga 12 digit untuk menjaga layar tetap terkunci. Mengubah kode sandi akan membutuhkan kata sandi Facebook.

Lebih dari itu, Facebook menjelaskan bahwa Facebook tidak mendengar, melihat, atau menyimpan konten panggilan video Portal pengguna.

Obrolan Portal tetap berada di antara pengguna dan orang-orang yang dihubungi. Selain itu, Facebook mengatakan bahwa panggilan video di Portal dienkripsi, sehingga panggilan selalu aman.

Untuk keamanan tambahan, Smart Camera dan Smart Sound menggunakan teknologi AI yang berjalan secara lokal di Portal, bukan di server Facebook. Kamera Portal juga tidak menggunakan pengenalan wajah dan tidak mengidentifikasi siapa Anda.

Seperti perangkat lain yang dilengkapi dengan suara, Portal hanya mengirim perintah suara ke server Facebook setelah pengguna mengatakan, “Hei Portal.” Pengguna juga dapat menghapus riwayat suara Portal di Activity Log Facebook kapan saja.

Untuk meningkatkan pengalaman pengguna, Portal juga memungkinkan pengguna untuk mendengarkan musik atau menonton acara favorit.

“Kami telah bermitra dengan Spotify Premium, Pandora, dan iHeartRadio, serta Facebook Watch, Food Network, dan Newsy – dan kami akan menambahkan lebih banyak lagi,” tulis Facebook.

“Kami juga menggabungkan efek augmented reality (AR) – didukung oleh platform Spark AR kami – untuk membuat panggilan menjadi lebih menyenangkan dan interaktif,” sambung Facebook.

Fitur Story Time tersebut membuat panggilan video lebih berwarna dengan efek suara dan visual khusus.

Ketika digunakan untuk menelpon, Superframe Portal dapat menampilkan foto dan video favorit dan pemberitahuan penting, seperti pengingat ulang tahun.

Portal dan Portal+ kini tersedia untuk pre-order di Amerika Serikat lewat situs Facebook portal.facebook.com, serta di retail online Amazon dan Best Buy, dan akan mulai dikirimkan pada November.

Portal dibandrol 199 dolar AS (sekitar Rp3 juta), sementara Portal+ dilego dengan harga 349 dolar AS (sekitar Rp5,3 juta). Namun, jika membeli keduanya, Facebook menawarkan harga 298 dolar AS (sekitar Rp4,6 juta).
 

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Sumber: https://news.detik.com/read/2018/08/31/144125/4191476/10/bukan-korupsi-kok-gucci-hingga-hermes-anniesa-dirampas-negara

Read More

Facebook Is Launching a Redesigned App and Website

Facebook CEO Mark Zuckerberg used his keynote speech during the company’s F8 developer conference Tuesday to announce a redesigned Facebook app and website. The new app will be available today to U.S. consumers, and come to the rest of the world in the first half of the year. Facebook’s new desktop version will roll out in the coming months.

“This is the biggest change to the Facebook app and website that we have made in the last 5 years,” Zuckerberg said.


The redesigned app and website put a major focus on Facebook Groups, which Zuckerberg painted as an effort to strengthen the company’s “digital town squares.” Facebook Groups are already being used by over 400 million people, he said, adding: “We believe that there is a community for everyone.”

These efforts include a new groups tab and recommendations for new groups throughout the app. Facebook will also bring more content from groups directly to a user’s newsfeed.

Facebook will also start to add new features to groups, including dedicated chat functionality for gaming groups, the ability to post without your name in self-help groups, and ways to flag potentially harmful groups. “We are very focused on safety here,” Zuckerberg said.

In addition to the new focus on groups, the Facebook app will also feature a redesigned user interface, which includes completely ditching the color blue. As another sign of a visual refresh, Facebook is even giving itself a new icon, which now includes animated images.

Some other features announced for the new Facebook app include a feature to discover new friends, additional features for Facebook’s dating service, shipping services for Facebook Marketplace and a new events tab, which is scheduled to launch this summer.

The announcement of the new Facebook app and website was in many ways a sign that Facebook’s traditional newsfeed business isn’t going away any time soon. That’s despite the company’s recent commitment to a major shift to privacy-focused products, which was also evident during Zuckerberg’s keynote speech.

“I believe that the future is private,” Zuckerberg announced during the opening minutes of his speech, detailing how the company was going to use Messenger and Whatsapp to strengthen private communication between its members. “This isn’t just about a few new features,” he said, arguing that Facebook was instead rebuilding itself from the ground up with a focus on private messaging.

This new focus will go along with Facebook still monetizing its existing app and newsfeed business, which is a theme that Facebook app VP Fidji Simo recently previewed during her keynote conversation at Variety’s Silicon Valleywood conference. “Both the town square and the living room are important,” she said during the event, which was her first public appearance since her promotion to lead Facebook’s app.

Sumber: https://news.detik.com/read/2018/08/31/144125/4191476/10/bukan-korupsi-kok-gucci-hingga-hermes-anniesa-dirampas-negara

Read More

Liga Spanyol sepakat dengan Facebook untuk penyiaran di india

Jakarta (ANTARA News) – Liga Spanyol mengumumkan pada Selasa bahwa mereka telah mencapai kesepakatan dengan Facebook yang akan membuat para penonton di India dan sekitarnya dapat menyaksikan semua pertandingan untuk tiga musim ke depan dengan cuma-cuma di media sosial itu.

Pernyataan dari Liga Spanyol mengatakan keseluruhan dari 380 pertandingan untuk musim baru, yang akan dimulai pada Jumat, akan dapat disaksikan para penonton di India, Afghanistan, Bangladesh, Bhutan, Nepal, Maladewa, Sri Lanka, dan Pakistan.

“Kami benar-benar gembira untuk dapat menyiarkan (Liga Spanyol) secara cuma-cuma di wilayah yang penting seperti sub benua India,” kata Alfredo Bermejo, kepala strategi digital Liga Spanyol, kepada Reuters menjelang pengumuman.

“Salah satu tujuan kami untuk dua tahun terakhir adalah menawarkan konten kepada seluas mungkin pemirsa, maka bermitra dengan platform bebas seperti Facebook, yang memiliki 270 pengguna di India, merupakan kunci bagi kami.”

Facebook dan Liga Spanyol menolak untuk memberikan detail keuangan kesepakatan itu, yang akan melengserkan raksasa jaringan sosial Sony Pictures Network sebagai pemegang hak di wilayah itu.


Baca juga: Klub Sepak Bola Apa yang Paling Populer di Facebook ?

Sony dilaporkan membayar 32 juta dolar untuk hak menyiarkan Liga Spanyol antara 2014 sampai 2016.

Facebook mulai menjelajah layanan siaran “streaming” olahraga pada 2017 dengan menyiarkan pertandingan-pertandingan Liga Bisbol AS (MLS) setiap pekannya, dan pada awal bulan ini menyetujui kesepakatan dengan perusahaan penyiaran Eleven Sports untuk menyiarkan satu pertandingan Liga Spanyol dan satu pertandingan Liga Italia per pekan melalui platform mereka.

Kesepakatan dengan Liga Spanyol merupakan pernyataan terkini dari meningkatnya ketertarikan grup-grup teknologi terhadap penyiaran olahraga untuk mempertahankan para pemirsa muda tetap setia dengan platform mereka.

Pada awal tahun ini, Amazon memenangi hak untuk menyiarkan 20 pertandingan Liga Inggris dalam semusim di Britania mulai 2019.

Bagaimanapun, Direktur Global Live Sports Facebook Peter Hutton, mengatakan kesepakatan dengan Liga Spanyol merupakan suatu percobaan, menuturkan bahwa meski perusahaannya telah memiliki kesepakatan-kesepakatan lain terkait pekerjaan itu, ia menolak untuk segera menguasai kesepakatan-kesepakatan terkait hak di olahraga itu.

“Kami mencari kesepakatan-kesepakatan lain yang cukup dekat untuk dipertimbangkan, namun ini bukan mengenai bergerak keluar dan membeli konten yang besar di seluruh dunia,” ucapnya kepada Reuters.

Tanpa iklan

“Kami mencari hak-hak yang spesifik di pasar-pasar yang spesifik dan berusaha untuk mempelajari data dari pengalaman-pengalaman itu dan memikirkan langkah selanjutnya. Jika Anda terburu-buru dalam berbagai kesepakatan dalam satu waktu, Anda tidak dapat melakukannya dengan baik.”

Sistem pemantauan Facebook akan mencegah kebocoran, memastikan hanya para penonton di wilayah sub benua India yang akan dapat menyaksikan pertandingan-pertandingan melalui platform mereka.

Baca juga: Cristiano Ronaldo jadi produser serial sepak bola untuk Facebook

Pertandingan-pertandingan itu awalnya akan disiarkan tanpa iklan sama sekali, meski Hutton mengatakan Facebook sedang melakukan percobaan-percobaan dalam beriklan pada konten langsungnya di AS, yang mungkin dapat diterapkan pada siaran Liga Spanyol di kemudian hari.

“Ini merupakan satu kesepakatan, bukan sesuatu yang merupakan ancaman besar terhadap dunia penyiaran,” tambah Hutton, mantan CEO Eurosport, yang dipekerjakan Facebook pada Mei untuk menaungi operasi siaran langsung olahraga.

“Kami memiliki hak-hak untuk bekerja dengan para penyiar dan kami mungkin membawa mitra-mitra untuk memastikan pengalaman ini berlangsung dengan baik. Apa yang sudah jelas adalah bahwa ini adalah mengenai 380 pertandingan yang akan dapat disaksikan di Facebook, kemudian kami akan membuat opsi-opsi kami tetap terbuka sebagaimana kami menyebarkan konten itu, maka orang-orang dapat menyaksikannya melalui sebanyak mungkin cara.”

Kesepakatan dengan Facebook merupakan langkah terkini dan paling signifikan pada strategi ekspansi Liga Spanyol di India, yang dimulai dengan pembukaan kantor di New Delhi pada September 2016.

Facebook memiliki 348 juta pengguna di sub benua India, sedangkan jumlah penonton Liga Spanyol meningkat sampai 2,2 juta pemirsa pada platform-platform media sosial liga pada tahun lalu.

“Kami telahbanyak menumbuhkan kehadiran kami di India dan kami memiliki angka-angka yang cukup kuat di wilayah ini,” tambah Jose Antonio Cachaza, manajer negara Liga Spanyol untuk India.

“Ini merupakan langkah pertama untuk kami, kami senang dapat melihatnya dan kami ingin hal ini berlangsung sesukses mungkin maka kami dapat membuka teritori-teritori baru di seluruh dunia.”

(H-RF)

(Uu.SYS/C/H-RF/C/T004) 14-08-2018 06:51:49

Pewarta: Antara
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Sumber: https://news.detik.com/read/2018/08/31/144125/4191476/10/bukan-korupsi-kok-gucci-hingga-hermes-anniesa-dirampas-negara

Read More

Polisi Usut Berita Hoax Sri Mulyani ‘Jual Bali untuk Bayar Utang’





Jakarta
Polda Metro Jaya belum menerima laporan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani terkait berita hoax yang menyebutkan seolah-olah dirinya ingin menjual Bali demi membayar utang. Meski begitu, polisi siap menyelidiki siapa penyebar berita bohong itu.

“Belum (ada laporan), ya kita selidiki,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono saat dihubungi detikcom, Senin (13/8/2018).

Sri Mulyani telah mengklarifikasi berita hoax itu lewat akun Instagramnya smindrawati. Sri Mulyani menegaskan bahwa berita tersebut tidak benar dan merupakan sebuah fitnah.

“Hoax/fitnah besar,” tulis Menteri Sri pada caption screenshot foto berita seperti dilihat detikcom di akun Instagramnya, @smindrawati, Minggu (12/8/2018).

Sri menjelaskan bahwa berita hoax itu tersebar sejak Oktober 2017. Berita itu berjudul “Sri Mulyani: Jika Rakyat Mengijinkan Daerah Bali Kita Jual Untuk Bayar Hutang”.

“Link berita tersebut telah dihapus dan adminnya juga telah menghilang,” tulis Sri.

Tetapi fitnah serupa kembali terjadi. Sri mengungkap, sebuah akun Facebook Sandy Yah menggunggah screenshot berita tersebut dan telah dibagikan ke banyak pengguna Facebook lainnya.

“Sebuah akun FaceBook bernama Sandy Yah, pada tanggal 10 Agustus 2018 menggunggah screen shot berita tersebut dan mendapatkan banyak tanggapan dan share. Berita tersebut adalah FITNAH KEJI dan TIDAK ENAR!,” tegas Sri.

Sri menegaskan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak diperjualbelikan. Sejak diproklamirkan, kedaulatan dan kemerdekaan RI dari pelosok negeri terus terjaga.

“Itu adalah mandat Konstitusi UUD 1945 yang kita jalankan secara konsisten dan penuh kesungguhan,” tegasnya lagi.

“Keuangan Negara, APBN termasuk kebijakan utang negara selalu kita jaga dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab keuangan Negara, APBN dan utang negara dibahas dan disetujui oleh DPR dalam bentuk UU APBN, dan diperiksa dan diaudit oleh BPK dan dipertanggungjawabkan di depan DOR. Semua informasi, data dan kebijakan dibahas secara terbuka dan disampaikan secara transparan kepada publik melalui website Kemenkeu,” papar Sri.

Sri menyebut, berita bohong itu sengaja disebar untuk menyerang pemerintah, kebijakan Fiskal dan Keuangan Negara secara tidak berdasar dan untuk menyerang pribadinya sebagai menteri keuangan. Terakhir, Sri menyampaikan bahwa penyebar berita bohong itu akan diberi tindakan hukum.

“Tindakan hukum bagi pembuat dan pengedar berita HOAX akan dilakukan terhadap pemilik akun bernama Sandy Yah yang mengedarkan berita FITNAH dan TIDAK BENAR,” tuturnya.

(mea/mea)



<!–

polong.create({
target: ‘thepolong’,
id: 57
})

–>

Sumber: https://news.detik.com/read/2018/08/31/144125/4191476/10/bukan-korupsi-kok-gucci-hingga-hermes-anniesa-dirampas-negara

Read More

10 Hoax Kesehatan yang Sering Beredar di Whatsapp dan Facebook

JakartaWhatsapp dan Facebook sering jadi aplikasi yang digunakan orang-orang untuk bertukar informasi. Di dalamnya sering juga muncul hoax-hoax kesehatan.

Bagaimana cara supaya kita bisa mengetahui mana informasi kesehatan di Whatsapp dan Facebook yang patut dicurigai? Sekretaris Jendral Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) Dr Berry Juliandi, Msi, mengatakan biasanya hoax bermain dengan informasi yang membawa pesan harapan atau ketakutan.

Diperlukan sikap kritis selalu meragukan informasi sehingga tidak mudah untuk menerima informasi baru di Whatsapp dan Facebook.

Sebagai contoh setidaknya beberapa hoax ini selalu diulang beredar tidak ada matinya di Whatsapp dan Facebook:

1. Main ponsel di tempat gelap sebabkan tumor mata

Informasi soal bahaya main ponsel sambil tiduran seringkali kita dapatkan, mulai dari pesan berisi bahaya-bahaya yang ‘mengancam’ hingga foto-foto mengerikan yang sengaja disebarkan di Whatsapp dan Facebook. Salah satu pesan berantai berisi bahwa memainkan ponsel di tempat gelap sebelum tidur dapat menyebabkan tumor mata.

Namun dokter spesialis mata dari Jakarta Eye Center, dr Ferdiriva Hamzah, MD, mengatakan bahwa hal itu tidak benar.

“Apalagi ini? Gara-gara liat HP juga? Hoax lah. Sekilas mirip ocular surface squamous neoplasia. Tumor mata yang bukan disebabkan karena kelamaan liat gadged,” jawabnya di akun media sosial.

Ulat di daun mangga dalam pesan yang beredar tidak mematikan.Ulat di daun mangga dalam pesan yang beredar tidak mematikan. Foto: detikHealth

2. Ulat mangga mematikan

Di media Whatsapp dan Facebook sempat beredar pesan berantai soal ulat pohon mangga yang diklaim dapat menyebabkan kematian, empat jam setelah digigit. Pesan tersebut disertai video yang menunjukkan sosok ulat berwarna hijau terkamuflase di pohon mangga.

Dr Purnama Hidayat, dosen di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Instititut Pertanian Bogor (IPB) dan mantan Ketua Perhimpunan Entomologi Indonesia, mengatakan ini adalah hoax yang berulang di Whatsaap dan Facebook.

“Pertama, ulat itu tidak menggigit, jadi dia makan daun. Memang di ujung bulu-bulunya itu ada racun tapi yang ini tidak mematikan. Hanya bikin gatel kayak ulat bulu biasa lah. Jadi ini hoax ya, ini udah berkali-kali,” kata Dr Purnomo.

3. MSG berbahaya untuk otak

Salah satu hoax yang populer yaitu kepercayaan monosodium glutamat (MSG) menyebabkan berbagai masalah mulai dari membuat otak ‘lemot’ hingga kanker. Di Whatsapp dan Facebook beredar berbagai macam variasi hoax ini.

Drs Tepy Usia, Apt, MPhil, PhD, Direktur Standarisasi Produk Pangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan bahwa banyak penelitian di dunia sudah membuktikan keamanan MSG. Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut kalau toksisitasnya rendah tidak berbahaya untuk kesehatan.

4. Mie instan sebabkan kanker

Di Whatsapp dan Facebook juga sering beredar kabar beberapa orang meninggal karena sering mengonsumsi mie instan. Salah satunya cerita tentang seorang pemuda meninggal akibat kanker perut atau cerita bagaimana mie instan yang dimasak bersamaan dengan bumbunya jadi pemicu kanker.

Menurut pakar nutrisi Jansen Ongko, MSc, RD, tidak ada bukti ilmiah untuk hal tersebut.

5. Kopi campur durian bahaya

Populer di Whatsaap dan Facebook cerita bagaimana seseorang meninggal setelah mengonsumsi kopi dan durian. Meski memang betul ada kejadian korban meninggal, namun kaitannya disebabkan campuran kopi dan durian bukan hal yang terbukti.

“Korban mungkin telah sakit sebelum makan durian dan minum kopi yang berujung kematian. Riwayat sakit inilah yang kemudian memicu serangan jantung, bukan serta merta efek durian dan kopi,” kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Prof Budhi Setianto Purwowiyoto.

6. Bahaya pemanis buatan aspartame

Hoax yang mengatasnamakan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) ini termasuk salah satu yang paling sering beredar di Whatsapp dan Facebook. Hoax selalu menjadi heboh karena menyebut 19 merk minuman yang cukup populer di masyarakat. Disebutkan, minuman-minuman tersebut mengandung Aspartame yang menyebabkan diabetes, kanker otak, dan mematikan sumsum tulang.

IDI telah berkali-kali membantah informasi tersebut. Nama dokter yang selalu dicatut dalam hoax tersebut, yakni dr.H.Ismuhadi MPH juga tidak ada sangkut-pautnya dengan hoax yang sudah beredar sejak 2009 tersebut.

Luka kecil ini tidak efektif untuk menghadapi serangan stroke.Luka kecil ini tidak efektif untuk menghadapi serangan stroke. Foto: Thinkstock

7. Tusukan jarum atasi stroke

Kalau kamu pernah melihat tips mengatasi stroke dengan tusukan jarum di jari yang beredar di Whatsapp dan Facebook bisa dipastikan itu hoax. Para pakar kesehatan membantah saran tersebut, karena serangan stroke ada beberapa macam dengan mekanisme yang berbeda-beda. Menusuk jarum tidak ada kaitannya sama sekali, meski sepintas terdengar masuk akal karena disebut bisa mengurangi tekanan darah.

Anjuran yang paling tepat ketika terjadi serangan stroke adalah menghubungan dokter sesegera mungkin, karena dalam kondisi tersebut setiap detik adalah pertaruhan antara hidup dan mati. Mencoba-coba untuk mengatasi sendiri hanya akan memperlambat pertolongan medis yang lebih terpercaya.

8. Mandi air dingin picu stroke

Banyaknya serangan stroke yang terjadi saat sedang berada di kamar mandi melahirkan mitos bahwa mengguyur kepala dengan air dingin bisa memicu stroke. Secara umum penyebab stroke sangat beragam dan yang pasti tidak sesederhana guyuran air di kepala.

Tidak ada data ilmiah yang menyebutkan bahwa serangan stroke paling sering terjadi di kamar mandi.

9. Vaksin HPV picu menopause dini

“Ini menyeramkan! Info dari kawan-kawan: vaksin kanker serviks yang ditujukan kepada anak-anak SD ini akan menyebabkan menopause dini,” demikian penggalan informasi hoax yang beredar di Whatsapp dan Facebook.

Faktanya, vaksin HPV telah mendapat persetujuan dari WHO (World Health Organization). Dalam berbagai uji yang telah dilakukan, vaksin ini telah dijamin keamanannya dan risiko menopause dini tidak termasuk dalam efek samping yang perlu dikhawatirkan.

10. Sakit jantung karena tidak kencing malam

Sebuah pesan berantai tentang bahaya tidak kencing di malam hari dan efeknya pada kesehatan jantung, beredar di jejaring Whatsapp dan Facebook. Disebutkan dalam pesan berantai itu, ancaman penyumbatan jantung dan pembuluh darah lainnya dapat terjadi ketika seseorang enggan untuk buang air kecil dan minum di malam hari.

dr Ayuthia Putri Sedyawan, BMedSc, SpJP, FIHA, dari RS Mayapada Lebak Bulus menegaskan bahwa berita tersebut hoax.

“Wah nggak ada hubungannya kencing malam dan penuaan pada fungsi jantung. Tubuh memang butuh air, karena porsi terbesar tubuh adalah air. Tapi nggak ada hubungannya sama penuaan fungsi jantung,” katanya.

10 Hoax Kesehatan yang Sering Beredar di Whatsapp dan Facebook (fds/kna)

Sumber: https://news.detik.com/read/2018/08/31/144125/4191476/10/bukan-korupsi-kok-gucci-hingga-hermes-anniesa-dirampas-negara

Read More

Saham Facebook anjlok, nilai perusahaan mengecil triliunan rupiah

Facebook

Reuters

Harga saham Facebook merosot hampir 20% dalam pembukaan bursa di New York, Kamis (26/07).

Penurunan tajam harga saham ini terjadi sehari setelah Facebook mengumumkan penurunan pendapatan kuartal dan memproyeksikan bahwa pertambahan keuntungan akan berjalan lebih lambat selama beberapa tahun mendatang.

Dengan penurunan 20% ini maka nilai perusahaan itu berkurang sekitar US$100 miliar atau sekitar Rp1.446 triliun.

Para eksekutif Facebook mengatakan penurunan pendapatan terjadi karena perusahaan harus membelanjakan uang lebih besar untuk meningkatkan pengamanan privasi dan memantau konten.

Dampak data pengguna

Di samping itu, terjadi pula perlambatan pertumbuhan jumlah penggunanya di negara-negara yang punya ladang iklan terbesar.

Proyeksi perlambatan itu terjadi ketika perusahaan menghadapi dampak dari caranya menangani berita palsu dan data pengguna.

Mark Zuckerberg

Reuters
Atas keterlibatan dengan Cambridge Analytica, bos Facebook Mark Zuckerberg harus menjelaskan kepada regulator Amerika Serikat awal tahun ini.

Facebook menjadi sorotan atas keterlibatannya dalam memberikan akses data pengguna kepada perusahaan konsultan politik yang berkantor di London, Cambridge Analytica. Disebutkan sekitar 87 juta data pengguna mungkin dibagikan kepada Cambridge Analytica.

Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa semakin sedikit orang menggunakan Facebook untuk menemukan atau membicarakan berita di jejaring sosial itu.

Edisi tahunan ketujuh Digital News Report melaporkan bahwa penurunan pengguna yang mengakses berita di Facebook mencerminkan kekhawatiran akan masalah privasi dan buruknya perdebatan yang muncul di media sosial.

Sumber: https://news.detik.com/read/2018/08/31/144125/4191476/10/bukan-korupsi-kok-gucci-hingga-hermes-anniesa-dirampas-negara

Read More

Media sosial sumber penyebaran hoaks jelang Pemilu 2019

Jakarta (ANTARA News) – Pemilihan umum atau pemilu bukanlah hal yang baru bagi Indonesia, karena sebagai negara demokrasi pemilu telah diselenggarakan untuk pertama kalinya pada tahun 1955.

Pada April 2019 Indonesia akan kembali menggelar pesta demokrasi ke-12 sebagai bentuk penjaminan hak politik warga negara yang lebih istimewa, karena untuk pertama kalinya pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden dilakukan serentak pada waktu yang bersamaan secara nasional.

Kendati demikian, ditengah persiapan pesta demokrasi yang seharusnya diwarnai oleh rasionalitas, muncul berbagai berita bohong atau hoaks di tengah-tengah masyarakat yang tidak bisa diabaikan karena penyebarannya yang semakin cepat dan masif dengan menggunakan teknologi informasi.

Perkembangan teknologi informasi selain berdampak positif terhadap kemajuan bangsa, juga mempengaruh pergelaran pemilu terutama dalam konteks banyaknya disinformasi, ujaran kebencian, dan konten-konten yang mengandung berita bohong, yang bertebaran dan mengadu domba.

Kementerian Sekretariat Negara menyebut penyebaran berita hoaks menjelang Pemilu 2019 ini sebagai satu fenomena yang timbul di tengah masyarakat yang berpotensi menciptakan disintegrasi dan memecah belah bangsa Indonesia.

Deputi V Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Jaleswari Pramodhawardani mengatakan kemunculan hoaks dan ujaran kebencian penting untuk diantisipasi, supaya masyarakat tidak terjebak dalam berita bohong dan berpotensi untuk menjatuhkan kandidat-kandidat peserta pemilu legislatif maupun eksekutif, sehingga bisa memecah kehidupan demokrasi di Indonesia.

Permasalahan hoaks ini memang sepatutnya menjadi fokus bersama, supaya Indonesia dapat menggelar Pemilu yang benar-benar demokratis.

Melalui pesan singkat

Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rosarita Niken Widyastuti memaparkan hasil penapisan “artificial intelligence” selama tiga bulan terakhir (Sejak September 2018 hingga Desember 2018) menunjukkan konten hoaks di Indonesia paling banyak menyerang pemerintah, kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden dalam Pemilu 2019, serta para menteri.

Berdasarkan data tersebut, Dirjen mengungkapkan sebanyak 63 informasi hoaks terkait dengan politik dan Pemilu 2019 yang disebarkan melalui media sosial dan pesan singkat berantai yang terenkripsi.

Hal ini tentu sangat disayangkan karena ketika masyarakat Indonesia hendak berpartisipasi dalam kemeriahan pesta demokrasi, justru banyak beredar informasi negatif, ujaran kebencian, fitnah, hingga provokasi.

Dirjen juga menjelaskan bahwa Kominfo telah berupaya menekan penyebaran hoaks yang banyak beredar melalui media sosial yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dengan cara terus melakukan verifikasi.

“Namun penyebaran hoaks lebih cepat, maka kami sebenarnya tidak bisa bekerja sendirian,” kata Rosarita.

Oleh sebab itu, Kominfo melakukan kerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti 98 komunitas siber dan beberapa kementerian serta lembaga terkait.

Kominfo juga cukup rajin menegur platform-platform yang memiliki akun dengan konten informasi berita bohong, radikal, dan menyesatkan.

Dirjen kemudian memberikan contoh aplikasi “Telegram” dan “TikTok” yang dinyatakan bermasalah dan sempat diminta untuk segera memperbaiki kontennya.

Meskipun Kominfo rajin memberi teguran kepada aplikasi yang dinilai bernuansa negatif, masyarakat juga diminta untuk aktif dengan melaporkan akun atau konten yang dengan sengaja menyebarkan informasi bohong, radikal, dan menyesatkan.

“Dengan begitu akan mudah menapis konten-konten negatif supaya tidak tersebar,” tambahnya.

Kemampuan evaluasi lemah

Beberapa waktu lalu para peneliti Lembaga kajian Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI) memaparkan hasil penelitian mereka di Jakarta, Bandung, Medan, dan Makassar yang tidak memiliki masalah dalam jaringan internet, 

Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak bisa terlepas dari internet untuk mencari informasi dan media sosial untuk berjejaring.

Berdasarkan klasifikasi identitas pengguna media sosial, yang paling banyak menggunakan media sosial adalah generasi X ( 39-58 tahun), generasi Y (22-38 tahun), dan generasi Z (18-21 tahun).

Dalam penelitian tersebut LabSosio UI menemukan terdapat satu elemen yang dinilai masih sangat kurang dan tidak menjadi perhatian. Elemen itu adalah kewajiban masyarakat sebagai warga net.

“Jadi kalau kita punya kewajiban maka seharusnya kita punya semacam tanggung jawab ketika kita memposting, mengikuti satu akun, dan ketika  ketika kita memproduksi informasi,” kata salah satu peneliti LabSosio UI Lugina Setyawati. 

Salah satu tanggung jawab tersebut dapat berupa kemampuan evaluasi atau melakukan pengecekan terhadap segala informasi yang diterima dan yang akan diproduksi di media sosial.

Penelitian ini menunjukkan kemampuan evaluasi yang dimiliki generasi X cukup rendah, karena sebagian besar generasi X memperlakukan sumber informasi dari internet sama seperti informasi yang didapat dari orang terdekat yang dipercaya.

Sementara itu sebagian besar generasi Z menggunakan media sosial sebagai satu-satunya sumber berita.

“Ketika kita menggunakan perangkat dijital kemampuan evaluasi dapat memperlihatkan bagaimana kita mengelola informasi,” ujar Lugina.

Selain itu sikap membiarkan juga dilakukan oleh sebagian besar responden ketika tahu bahwa informasi yang mereka tersiar adalah berita hoaks.

Melakukan pembiaran dikatakan Lugina sebagai salah satu hal yang termasuk dalam elemen kurangnya evaluasi, karena informasi yang diterima tidak diolah secara kritis namun dibiarkan saja alih-alih melaporkan informasi tersebut kepada admin media sosial.

“Sumber hoaks itu mereka sebut didapat dari media sosial dan kerabat, padahal kalau mereka dapat informasi yang tidak yakin itu benar, mereka kembali bertanya kepada kerabatnya lagi,” kata Lugina.

Kemampuan evaluasi yang sangat rendah itu kemudian menjadi celah masuknya berita hoaks dengan cepat dan masif.

Kebijaksanaan masyarakat dalam menggunakan teknologi informasi merupakan salah satu kunci untuk menekan penyebaran berita hoaks.

Pewarta: Maria Rosari Dwi Putri
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sumber: https://news.detik.com/read/2018/08/31/144125/4191476/10/bukan-korupsi-kok-gucci-hingga-hermes-anniesa-dirampas-negara

Read More